Never Ending


 Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tempat, kata, peristiwa, keajadian, perkara, mandat, skenario, perwatakan, alur, dan lain sebagainya, itu hanya kesengajaan yang disengaja.Upz…maksud kami yang tidak disengaja. bagir semuanya yang mau baca dipersilahkan, bagi yang tidak, silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut…..tuuuuuuuuuuuuuut.
Sore itu matahari mulai meredupkan sinarnya di kota Solo . Cuaca yang tadinya begitu panas  mulai berubah menjadi sedikit hangat dan disertai hembusan angin sepoi-sepoi. Hal itu juga dirasakan di area sebuah kampus ternama di kota Solo. Meski sore telah tiba, namun kampus tersebut masih tetap menampakkan aktifitasnya. Masih banyak mahasiswa yang melakukan aktifitasnya di kampus tersebut. Ada yang sedang duduk-duduk di sekitar hotspot area, di depan kopma, dan ada juga yang sedang menyantap buku-buku yang di sediakan universitas di perpus.
Kala itu aku baru saja selesai kuliah dan berjalan melewati lorong dengan temanku. Kami bisa dibilang teman dekat. Ya, aku memang dekat dengan semua teman-teman di kelas. Saat itu kami sedang menuju ke Masjid kampus untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai muslim.
Ketika aku sampai di akhir lorong, aku melihat seseorang yang membuatku sesaat tak mampu memalingkan muka. Segera aku merogoh hp nokia 1005 ku, mencari sebuah kontak, dan mulai memijat-mijat tombol hp untuk merangkai huruf demi huruf menjadi kata-kata. Dan akhirnya usahaku menghasilkan sebuah tulisan “Assalamu’alaykum Yuri.. belum pulang ni? Nanti mau ikut syuro ya?”. Yuri, itulah sosok yang ku lihat di akhir lorong  yang aku lewati. Dia juga salah satu mahasiswi di kampus ini, namun berbeda jurusan. Aku memang belum mengenalnya secara langsung, tapi aku telah tahu sedikit tentangnya.
Ketika itu dia sedang menyapa anak dari pemilik kantin yang sedang di gendong orang tuanya di jalan menuju kopma bersama temannya. Sosok keibuanya begitu nampak saat itu, membuatku makin terkagum-kagum kepadanya. Sesaat kemudian diapun berlalu begitu saja.
Sebenarnya sudah sejak lama aku memperhatikannya, namun belum ada keberanian yang cukup untuk memulai percakapan dengannya. Mungkin karena aku terlalu penakut dalam masalah seperti ini, dan juga kami beda jurusan sehingga membuatku tambah pesimis untuk bisa walau sekedar dekat dengannya.
Oiya, sebelumnya perkenalkan namaku Toro. Aku adalah salah satu mahasiswa semester 2 di kmpus ini. Entah angin apa yang membawaku sampai ke kota ini, terutama ke kampus ini, kampus yang tak pernah ku bayangkan untukku menuntut ilmu. Di sinilah semua pengalaman demi pengalaman baruku dimulai.
$$$
Sepuluh hari yang lalu kampus kami mengadakan sebuah wisata alam ke daerah pegunungan, tepatnya di lereng Gunung Merapi. Di sana kami belajar mengenal alam dan juga belajar bekerja sama. Tujuannya agar dapat menambah kekompakan diantara satu sama lainnya.
Udara di sekitar penginapan yang kami tinggali cukup dingin dan mampu membuat kami merinding. Dari halaman rumah dapat terlihat jelas puncak Gunung Merapi yang tumpul karena baru saja meletus beberapa bulan yang lalu. Penampakan puncaknya masih terlihat seperti tertutup debu vulkanik yang di hasilkannya pada saat meletus. Di sisi lain nampak bukit-bukit yang berwarna hijau karena banyaknya pepohonan yang menempel di atasnya. Di samping rumah juga ada sebuah kebun kecil yang di atasnya tertanan sayur-sayuran segar berwarna hijau.
Kami di sana hanya dua hari satu malam. Waktu yang singkat tersebut kami manfaatkan semaksimal mungkin untuk menjalin hubungan baik dengan teman-teman dan juga alam. Kami memilih mengisi waktu malam di halaman rumah dengan membuat api unggun guna menghangatkan tubuh.
Pagi sebelum memasuki acara berikutnya yaitu outbond, kami mengisi amunisi dulu dengan makanan yang berbentuk seperti bola pimpong, ya bakso. Semua makan bersama di dalam satu ruangan.
Di sana juga ada Yuri, gadis manis yang menarik perhatianku. Muka oval dengan kain hitam yang menutupi kepala sampai kebawah dan juga bros beruang yang menempel di dekat bahu sebelah kiri, menambah kesan imut di wajahnya. Cara makannya yang anggun bak seorang putri dari negeri impian membuatku makin terkagum-kagum. Saat itu aku hanya bisa meliriknya dari jauh, karena kami memang belum saling mengenal.
Setelah selesai makan, kami semua mencuci piring masing-masing. Tanpa di sangka-sangka saat itu aku tepat bebarengan dengan Yuri ketika mencuci piring. Wah..jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya, seperti genderang mau perang. Aku tetap jaga sikap, istilahnya jaimlah.
Selesai beres-beres, kamipun memulai acara outbond. Outbond kali ini diisi dengan berbagai macam permainan yang melibatkan kekompakan, kerjasama, kebersamaan, dan juga ketahanan fisik. Rute outbond kami cukup jauh, lumayanlah untuk membuat jalan kami sempoyongan.
Selesai outbond, kami berkemas-kemas untuk kembali pulang ke kampus dan melanjutkan aktivitas harian kami sebagai mahasiswa. Banyak hal yang kami dapat dari wisata alam tersebut. Yang pasti dapat mengobati rasa penat akan tugas-tugas perkuliahan.
Sekembalinya dari wisata tersebut, aku mulai memikirkan untuk memberanikan diri mencari informasi lebih lanjut tentang Yuri. Awalnya aku bingung mau minta nomor Yuri kepada siapa, secara aku belum banyak mengenal teman-temannya. Namun, ketika wisata secara tidak sengaja aku dikenalkan pada teman sekelasnya yang juga teman bermainnya dikala mereka sedang suntuk. Kesempatan bagiku makin terbuka lebar. Akhirnya aku bisa mendapatkan nomor Yuri dari temannya tersebut.
$$$
Sepanjang perjalanan kemasjid aku terus mengecek kantong celanaku, memastikan sudah bergetarkah hpku. Sesekali ku ambil dan ku tatap layarnya. Namun, layar hp masih tetap berwarna hitam, pertanda tidak ada pesan yang masuk. Aku terus menunggu dan berharap. Dalam batinku berpikir mungkin saja dia sedang tidak bawa hp, sehingga tidak tahu datangnya pesan dariku.
Sesampainya di masjid, hpku bergetas hebat. Kuraih hp tersebut dari dalam kantong celanaku. Betapa senangnya aku melihat tulisan yang tertera di layar, “1 message Yuri”. Segera kubuka kunci pengaman dan ku baca pesan yang masuk. Tampaklah beberapa kata yang tersusun rapi membentuk kalimat berisi balasan dari pertanyaan yang ku lontarkan tadi. Bunyiya kurang lebih “Belum, ni masih ada latihan nari. Insya Allah ikut, knp? Ni siapa?”.
Ku balas pesan singkat tersebut seusai shalat. Dalam pesan-pesanku berikutnya, aku mencoba memperkenalkan diri dan sedikit berbincang-bincang dengannya. Namun, perbincangan kami terpotong karena dia akan latihan nari dan akupun ada latihan bela diri sore harinya.

0 komentar: